Pemerintah Targetkan Kemiskinan di Bawah 5 Persen pada 2029, Hilirisasi dan Pemberdayaan Jadi Strategi Utama

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya. 

BANDUNG, JABAR – Pemerintah terus mendorong pengembangan program pemberdayaan masyarakat sebagai strategi utama menurunkan tingkat kemiskinan nasional hingga di bawah 5 persen pada 2029. Kebijakan pembangunan ke depan ditegaskan tidak lagi bertumpu pada bantuan sosial semata, melainkan pada penguatan kapasitas masyarakat agar lebih mandiri dan produktif, seiring percepatan hilirisasi dan industrialisasi nasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI, Muhaimin Iskandar, dalam kegiatan Studium Generale dan Bedah Buku Indonesia Naik Kelas di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (11/2/2026).

Menurut Muhaimin, hilirisasi merupakan program strategis pemerintah yang tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki efek sosial signifikan dalam menekan angka kemiskinan.

“Program hilirisasi dan industrialisasi harus beriringan dengan program pemberdayaan masyarakat, sehingga tercipta berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia yang sangat penting untuk mewujudkan ekonomi tanpa ketimpangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengembangan hilirisasi dan industrialisasi akan mendorong lahirnya berbagai program pemberdayaan, antara lain peningkatan keterampilan tenaga kerja, pengembangan kewirausahaan, serta perluasan kesempatan kerja produktif di berbagai daerah. Selain itu, sektor pendidikan juga didorong untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Hilirisasi dan industrialisasi tidak boleh berhenti di pembangunan smelter, tetapi harus diikuti dengan adopsi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia unggul sehingga semakin mampu mendukung pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama MIND ID sekaligus penulis buku Indonesia Naik Kelas, Dany Amrul Ichdan, menyatakan bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk tumbuh lebih cepat dan strategis, terutama dengan kekayaan sumber daya alam yang relevan dalam peta ekonomi global saat ini.

“Kita diberkahi sumber daya alam yang hari ini justru menjadi komoditas paling relevan di ekonomi global. Ini bukan sekadar kekayaan alam, ini adalah potensi besar. Jika dikelola dengan tepat, ia bisa menjadi fondasi lompatan industri nasional ke level yang lebih tinggi,” ujarnya.

Dany menekankan bahwa tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada instrumen kebijakan, kualitas tata kelola, dan strategi pengelolaannya.

Menurutnya, hilirisasi merupakan instrumen untuk mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Ketika nilai tambah diciptakan di dalam negeri, maka yang bertumbuh bukan hanya ekspor, tetapi juga lapangan kerja berkualitas, basis industri nasional, serta ekonomi daerah.

“Naik kelas bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan tentang pertumbuhan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendorong kemajuan yang inklusif,” jelasnya.

Ia mencontohkan pembangunan smelter oleh Grup MIND ID sebagai implementasi konkret hilirisasi yang memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja serta menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor-sektor pendukung.

“Satu smelter bisa melahirkan 10 sampai 12 industri hilir. Ekosistemnya harus dirancang sejak awal,” katanya.

Melalui forum akademik tersebut, ITB menegaskan komitmennya sebagai ruang dialog strategis kebangsaan serta mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi untuk mewujudkan ekonomi Indonesia yang inklusif, berdaulat, dan berkelanjutan.

Konsep Indonesia Naik Kelas yang diangkat dalam buku karya Dany Amrul Ichdan dinilai sejalan dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sekaligus memperkuat pemerataan, sebagai fondasi menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan menuju 2029.**

Pos terkait