Laporan wartawan sorotnews.co.id : Samahato Buulolo/A. Pais.
NIAS SELATAN, SUMUT — Warga Desa Angorudua Balaekha, Kecamatan Lahusa, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, menyampaikan harapan besar kepada pemerintah pusat dan daerah atas kondisi wilayah mereka yang hingga kini masih tergolong terisolir dan minim pembangunan infrastruktur dasar.
Permohonan tersebut disampaikan masyarakat melalui berbagai pihak, termasuk kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Panglima TNI, agar memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan mendesak di desa tersebut.
Kepala Desa Angorudua Balaekha, Seramahati Laia, SH, kepada wartawan Sorotnews.co.id menjelaskan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan pembangunan infrastruktur, namun hingga kini belum membuahkan hasil.
“Kami sudah sering menyampaikan permohonan pembangunan jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga perluasan jaringan listrik. Namun sampai saat ini belum ada realisasi,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi geografis desa yang jauh dari ibu kota Kecamatan Lahusa menyebabkan akses masyarakat sangat terbatas. Infrastruktur jalan dan jembatan yang belum memadai berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan warga.
Salah satu kebutuhan mendesak adalah pembangunan jembatan Bailey di Sungai Lalimbo. Jembatan tersebut dinilai penting untuk menjamin keselamatan warga, khususnya anak-anak sekolah yang setiap hari harus menyeberangi sungai dan menghadapi risiko saat debit air meningkat.
“Masyarakat sangat berharap bantuan pembangunan jembatan Bailey agar anak-anak bisa bersekolah dengan aman, terutama saat musim hujan,” kata Seramahati.
Selain itu, warga juga meminta perhatian dari Gubernur Sumatera Utara, Pangdam I/Bukit Barisan, Bupati Nias Selatan, Dandim 0213/Nias, serta DPRD Kabupaten Nias Selatan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jalan, fasilitas pendidikan, dan layanan kesehatan, termasuk pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu).
Anggota DPRD Kabupaten Nias Selatan, Sam. Buulolo, yang turut melakukan sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2023 tentang Badan Permusyawaratan Desa (BPD), menilai kondisi Desa Angorudua Balaekha memang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
“Pembangunan jalan dan jembatan, rehabilitasi berat gedung SD Negeri 078456 Balaekha, serta pembangunan Pustu menjadi kebutuhan mendesak masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi jaringan listrik di desa tersebut yang masih terbatas. Menurutnya, listrik sudah masuk ke wilayah desa berkat swadaya masyarakat yang memasang tiang dan kabel secara mandiri sepanjang kurang lebih 4 kilometer. Namun, kapasitas listrik masih belum stabil.
“Jika digunakan secara bersamaan oleh warga, arus listrik sering mengalami penurunan (drop),” jelasnya.
Lebih lanjut, Buulolo menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pimpinan ULP-3 Nias terkait kondisi tersebut. Dalam koordinasi tersebut, pihak PLN berjanji akan membantu penggantian tiang listrik yang saat ini masih menggunakan tiang besi sederhana, serta merencanakan pemasangan trafo khusus untuk menstabilkan pasokan listrik ke desa.
Di sisi lain, persoalan ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian warga. Tokoh masyarakat setempat mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Nias Selatan telah melakukan survei, namun hingga kini belum ada realisasi anggaran untuk tahun 2026.
“Padahal kebutuhan air bersih sangat mendesak, tetapi belum ada tindak lanjut dari hasil survei tersebut,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Warga berharap pemerintah pusat dan daerah dapat segera menjadikan pembangunan infrastruktur dasar sebagai prioritas utama, agar masyarakat Desa Angorudua Balaekha dapat keluar dari keterbatasan dan meningkatkan kesejahteraan.
“Kami sangat berharap perhatian serius dari pemerintah agar desa kami tidak terus tertinggal dan masyarakat bisa hidup lebih layak,” tegasnya.**








