Laporan wartawan sorotnews.co.id : Toni.
KOTA PEKALONGAN, JATENG – Walikota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mengungkapkan kerjasama dengan Dutch Water Authority (DWA) atau Dewan Air Belanda melalui program ‘Blue Deal’ menjadi upaya terbaru pemkot mengatasi persoalan banjir dan rob.
Sebelumnya Pemkot Pekalongan sudah menandatangani kerjasama serupa dengan tiga lembaga asing lainya yakni Program Adaptation Fund Kemitraan, Mercy Corps Indonesia (MCI) dan Earthworm Foundation Indonesia (EFI).
Selain dengan lembaga asing, tak kurang dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana juga turut membantu Pemkot Pekalongan mengatasi banjir dan rob.
“Dalam kerjasama Blue Deal tersebut, DWA banyak memberikan masukan maupun rekomendasi mengingat kondisi Pekalongan sama dengan Belanda, dimana posisi permukaan air laut serta sungai lebih tinggi dari daratan dan penanganan banjir rob disana berhasil sehingga masyarakat banyak yang memberikan masukan agar belajar dari Belanda,” kata dia, Senin (6/6/2022).
Ia pun tak segan mendatangkan tim ahli dari negeri Belanda untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengatasi persoalan banjir dan rob yang sudah terjadi dalam kurun 12 tahun terakhir.
“Iki londone tak tekake sisan ning Pekalongan (ini orang Belandanya Saya datangkan sekalian ke Pekalongan),” ucap Aaf, sapaan populer walikota.
Aaf menjelaskan kerjasama Blue Deal difokuskan menyasar ke wilayah Semarang dan Kota Pekalongan, dengan terwujudnya kerjasama tersebut diharapkan bisa membawa keberkahan dan manfaat untuk masyarakat maupun Kota Pekalongan dalam menuntaskan permasalahan banjir dan rob.
“Mudah-mudahan bisa segera terwujud, dan hari ini info dari tim DWA mengatakan Menteri PUPR RI, Pak Basuki sudah meneken perjanjian kerjasama ini di Belanda,” tuturnya.
Aaf juga menyebut proyek penanganan banjir dan rob di Kota Pekalongan progres rata-ratanya masih 12.5 persen, sementara fenomena rob semakin tinggi di mana penurunan muka tanah maauk katagiri sangat tinggi mencapai 11,9 centimeter dalam dua tahun terakhir.
“Semua itu bisa dilihat dari alat pengukur penurunan muka tanah yang sudah terpasang di beberapa tempat salah satunya di Stadion Hoegeng,” katanya.
Sementara itu perwakilan DWA, Peter Hollanders menyampaikan tujuan kedatangan tim ke Pekalongan untuk membangun kerjasama jangka panjang mulai 2022 hingga 2030.
Ia bersama timnya ingin mengajak warga Kota Pekalongan mengubah pola pikir dalam menyelesaikan isu rob yang diakibatkan penurunan muka tanah melalui pendekatan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
“Kami berkeinginan menyelidiki isu pengelolaan air baik dari sisi pembangunan dan perawatan tanggul, penanganan isu banjir dan rob, serta bagaimana terjalin kerjasama dengan stakeholders terkait, sehingga, kami menawarkan mereka bantuan apapun dari segi bagaimana cara mereka berpikir dengan teknik baru, kami mencoba untuk membantu mereka apapun itu,” tukasnya.








