Dari Laboratorium ke Garis Depan Perlindungan PMI: Kepemimpinan Ilmiah Prof. Yassierli yang Mengubah Ilmu Menjadi Keselamatan Nyata

Foto: Prof. Dr. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Ali Nurdin Abdurahman/Red.

JAKARTA – Ada jarak yang sering kali terasa jauh antara laboratorium akademik dan realitas kerja paling keras di lapangan. Namun, di tangan Prof. Dr. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., jarak itu dipendekkan, bahkan nyaris dihapuskan. Sebagai Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pakar nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Prof. Yassierli menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori, melainkan instrumen pembebasan dan perlindungan bagi mereka yang paling rentan: Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Keunggulan Prof. Yassierli terletak pada kemampuannya menerjemahkan riset ilmiah yang kompleks, khususnya di bidang ergonomi dan K3 menjadi solusi aplikatif yang membumi, mudah dipahami, dan langsung digunakan oleh PMI. Melalui pengembangan aplikasi digital dan modul edukasi K3 yang ramah pengguna, beliau menghadirkan pengetahuan keselamatan kerja ke genggaman tangan para PMI, terutama Pekerja Rumah Tangga (PRT) migran yang selama ini kerap terpinggirkan dari akses pelatihan formal. Inovasi ini bukan hanya meningkatkan pemahaman risiko kerja dan praktik keselamatan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri PMI untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja mereka secara mandiri.

Riset ergonomi terapan yang dikembangkan Prof. Yassierli secara khusus menyasar sektor-sektor kerja berisiko tinggi yang menjadi ladang penghidupan utama PMI. Dengan pendekatan berbasis postur kerja aman dan pencegahan cedera muskuloskeletal, modul pelatihan yang dirancangnya bersifat praktis, kontekstual, dan relevan dengan aktivitas kerja sehari-hari. Yang lebih penting, intervensi tersebut tidak berhenti sebagai proyek pelatihan, tetapi diperkuat oleh publikasi ilmiah internasional yang mengukuhkan validitas akademiknya. Melalui karya-karya tersebut, Indonesia tampil sebagai kontributor penting dalam pengembangan keilmuan K3 global yang berpihak pada pekerja migran dan kelompok kerja rentan.

Peran Prof. Yassierli tidak berhenti pada ranah inovasi dan riset. Ia juga menjadi jembatan strategis antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Dalam perumusan kebijakan serta standarisasi pelatihan pra-keberangkatan PMI, beliau memastikan bahwa kurikulum yang disusun berbasis bukti ilmiah, selaras dengan standar K3 internasional, dan relevan dengan risiko nyata di negara penempatan. Rekomendasi teknis yang dihasilkannya telah diadopsi oleh berbagai pemangku kepentingan, menjadikan pelatihan PMI lebih bermutu, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan jangka panjang.

Yang patut diapresiasi lebih jauh, Prof. Yassierli memandang K3 secara utuh, tidak semata sebagai persoalan teknis. Dalam modul pelatihan yang dikembangkannya, ia mengintegrasikan peningkatan kesadaran hukum dan pemahaman kontrak kerja. Dengan demikian, PMI tidak hanya terlindungi secara fisik, tetapi juga berdaya secara pengetahuan dan hak. Pendekatan ini menjadi fondasi penting untuk meminimalkan risiko eksploitasi, pelanggaran kerja, dan ketidakadilan struktural yang kerap membayangi kehidupan PMI di luar negeri.

Atas kepemimpinan intelektual yang konsisten, pengabdian yang berakar pada empati, serta dampak nyata yang berkelanjutan bagi keselamatan, martabat, dan kualitas kerja Pekerja Migran Indonesia, Prof. Dr. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. layak dianugerahi Penghargaan “Tokoh Motivator dan Inspirasi Negeri 2025” Kategori “Tokoh Inovator Perlindungan dan Kesejahteraan Pekerja Migran Indonesia”. Ia adalah contoh hidup bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi, ketika dipandu oleh keberpihakan dan komitmen sosial, dapat menjadi fondasi kuat bagi perlindungan dan pemberdayaan PMI secara berkelanjutan dari kampus, menuju kebijakan, hingga menyentuh langsung kehidupan ratusan ribu anak bangsa di perantauan.**

Pos terkait