Laporan wartawan sorotnews.co.id : M. Suryadi.
TAPSEL, SUMUT – Sejumlah titik pada ruas Jalan Lintas Mosa Jae–Mosa Julu, tepatnya di wilayah Desa Gunung Baringin, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mengalami kerusakan cukup parah akibat dilalui alat berat jenis ekskavator (beko). Kerusakan paling mencolok terjadi di pangkal dan ujung jembatan yang masih berbahan dasar balok kayu dan papan.
Hasil pantauan Sorotnews.co.id, Selasa (8/7/2025), serta informasi yang diperoleh dari sejumlah sumber di lapangan, ekskavator tersebut diduga melintas melewati aliran sungai di samping jembatan demi menghindari struktur kayu yang rapuh. Namun, saat naik dan turun dari badan jalan, alat berat itu justru menyebabkan kerusakan signifikan pada akses jalan utama desa.
Sekretaris Desa Gunung Baringin, Siti A, membenarkan kejadian tersebut dan menyampaikan bahwa pihaknya tidak pernah menerima pemberitahuan atau permohonan izin dari pihak pemilik atau penyewa alat berat.
“Kami baru mengetahui ada ekskavator yang beroperasi di wilayah kami dari laporan masyarakat pada Senin kemarin (7/7). Sangat disayangkan, pihak pemilik alat berat tidak melakukan koordinasi terlebih dahulu,” ujar Siti A, saat ditemui di kantor desa bersama Sulaiman Siregar, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Ia juga menambahkan bahwa jalan lintas Mosa tersebut baru selesai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2024, sementara jembatan-jembatannya masih dikerjakan secara swadaya oleh warga.
“Kami sangat menyayangkan sikap tidak bertanggung jawab dari oknum yang menggunakan alat berat tersebut. Seharusnya mereka memperhitungkan kondisi infrastruktur desa sebelum melintas, apalagi jembatan hanya dari papan dan balok kayu. Dugaan kami, mereka akan membuka lahan baru tanpa memperhitungkan dampaknya bagi warga sekitar,” tegasnya.
Saat tim media mencoba meminta klarifikasi kepada pihak pengangkut dan pengawal alat berat di lokasi kejadian, mereka enggan memberikan keterangan rinci.
“Saya hanya sopir truk, Bang. Tidak tahu alat itu punya siapa. Saya hanya disuruh antar,” ujar salah seorang sopir singkat, sembari menolak untuk diwawancarai lebih lanjut.
Sekretaris Desa Gunung Baringin menegaskan bahwa pihak desa akan mengupayakan agar pemilik atau penyewa alat berat tersebut bertanggung jawab atas kerusakan yang telah ditimbulkan.
“Kami minta pemilik alat berat segera memperbaiki kerusakan jalan dan jembatan yang ditimbulkan. Ini bukan hanya merugikan warga, tetapi juga menghambat aktivitas perekonomian desa yang sangat bergantung pada akses jalan ini,” pungkasnya.
Pemerintah Desa Gunung Baringin berharap peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang, dan menekankan pentingnya koordinasi antara pemilik alat berat dengan aparat desa sebelum memasuki wilayah yang memiliki infrastruktur terbatas.**








