Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA — Sektor mineral dan batu bara (minerba) terus menunjukkan peran strategis dalam mendorong investasi serta pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah perusahaan pertambangan nasional dan swasta intensif mengejar target pembangunan serta pengoperasian proyek-proyek strategis hilirisasi, guna memastikan investasi yang telah dikeluarkan segera menghasilkan produk bernilai tambah bagi transformasi industri Indonesia.
Berdasarkan laporan capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi investasi sektor mineral dan batu bara hingga 2025 tercatat mencapai US$6,7 miliar. Capaian tersebut didorong oleh penyelesaian dan percepatan sejumlah proyek strategis nasional di bidang hilirisasi.
Sejumlah proyek besar Grup MIND ID menjadi kontributor utama realisasi investasi tersebut. Di sektor nikel, PT Vale Indonesia Tbk terus mengembangkan tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP), yakni IGP Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa. Ketiga proyek tersebut masih dalam tahap pembangunan dengan total nilai investasi diperkirakan mencapai US$8,7 miliar.
Proyek-proyek tersebut diharapkan menjadi penghubung penting dalam rantai pasok nikel nasional, sehingga Indonesia mampu menghasilkan bahan baku strategis untuk berbagai industri, termasuk industri baterai kendaraan listrik.
Selain itu, Grup MIND ID melalui PT Freeport Indonesia juga membangun Precious Metal Refinery (PMR) atau pabrik pemurnian logam mulia di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Proyek bernilai investasi sekitar US$630 juta ini menjadi bagian dari program hilirisasi nasional untuk mengolah anoda slime menjadi logam mulia seperti emas dan perak.
Kontribusi investasi lainnya datang dari proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi mencapai US$900 juta. Proyek yang mulai beroperasi pada 2025 tersebut menjadi mata rantai penting hilirisasi bauksit, alumina, hingga aluminium di Indonesia.
Tak hanya BUMN, sektor swasta juga turut mendorong peningkatan investasi minerba nasional. Salah satunya adalah pabrik PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA) di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam, yang diresmikan pada Juli 2025 dengan nilai investasi sebesar Rp400 miliar.
Selain itu, PT Batam Timah Sinergi (BTS) juga meresmikan pabrik hilirisasi timah di Kawasan Industri Sei Lekop, Batam, dengan total investasi mencapai Rp1 triliun. Pabrik ini mengolah timah menjadi berbagai produk bahan baku industri seperti Stannic Chloride, Dimethyl Tin Dichloride (DMCTL), dan Methyl Tin Mercaptide.
Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandi Arif, menilai sejumlah investasi di sektor hilirisasi merupakan langkah strategis industri pertambangan nasional dalam menjawab tantangan global.
Menurutnya, investasi sektor minerba menjadi kunci agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu menghasilkan produk hilir bernilai tambah tinggi. Selain itu, hilirisasi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih besar dalam mendukung transisi energi global.
“Kita memiliki tantangan mendasar, yaitu meningkatkan aktivitas eksplorasi untuk memastikan keberlanjutan cadangan dan daya saing jangka panjang. Di sisi lain, permintaan terhadap produk mineral kritis juga harus dimanfaatkan secara optimal,” ujar Irwandi saat dihubungi.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch, Ferdy Hasiman, berharap capaian investasi sektor minerba pada 2025 dapat terus berlanjut dan meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Namun demikian, Ferdy mengingatkan adanya tantangan berupa kebijakan pengetatan produksi pertambangan yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor minerba.
“Kita berharap investasi yang lebih besar dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai tambah ekonomi sesuai target pemerintah. Hanya saja, saya khawatir pembatasan produksi dari pemerintah dapat memengaruhi kinerja sektor minerba,” katanya.
Meski begitu, Ferdy juga berharap kebijakan pembatasan produksi dapat mendorong kenaikan harga komoditas di pasar global. Ia menekankan pentingnya peran sektor swasta sebagai motor utama dalam mendorong investasi minerba nasional ke depan.**








