Laporan wartawan sorotnews.co.id : Oriyen Suebu.
KOTA SORONG, PAPUA BARAT DAYA – Kapal Indian Partnership bermuatan bahan material Bouskit dari Australia tujuan Cina dengan beban muatan sebanyak 178,08 meter ton yang karam di perairan Misol Kabupaten Raja Ampat.
Kepala Kantor Unit Penyelenggaraan Pelabuhan (UPP) Kelas III Teminabuan Marthen Saboan saat ditemui di Cafe J’Co, menerangkan bahwa pada saat UPP Kelas III Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan mendapat informasi dari pihak Agen bahwa ada kapal yang masuk di Misol dalam keadaan urgensi, sehingga UPP Teminabuan langsung beraksi dengan memerintahkan Agen untuk membuat surat ke pihak-pihak terkait, Kamis (15/6/2023).
“Dalam proses selanjutnya, UPP Kelas III Teminabuan melakukan pertemuan dan arahkan ke pihak owner untuk melakukan perbaikan atas kesobekan yang dialami oleh Kapal Indian Partnership, sehingga owner langsung menuju pihak result salvage dari Singapura karena Singapura tidak memiliki lisensi di Indonesia sehingga Singapura menunjuk Surabaya untuk melakukan pendampingan dalam proses perbaikan Kapal Indian Partnership,” kata Marthen.
Marthen Saboan menyampaikan bahwa penanganan yang dilaksanakan sampai saat ini yaitu sobekan sobekan pada kapal telah di las sehingga kapal tersebut sudah terangkat kembali setinggi 4 meter dari dasar laut. Namun perlu diadakan ship to ship artinya adanya pengurangan beban material bouskit yang di transfer dari kapal Indian Partnership ke Kapal Gertrude Oldendorff bahwa kapal akan stabil dari hasil pengelasan yang dilakukan.
“Menyangkut Kapal asing, masyarakat perlu diketahui bawa semua kegiatan yang dilakukan tersebut memperoleh izin yang jelas dan semua ini dilaksanakan dengan prosedur standar internasional sehingga kami tidak sembarang untuk mengambil suatu keputusan atau kebijakan untuk terlampau mengatur ke dalam, namun laporan dari pihak owner ke UPP Kelas III Teminabuan selalu dilaksanakan dan hal tersebut kami melaporkan ke pimpinan pusat,” jelas Marthen.
“Kalau estimasi keberangkatan kapal keluar dari Misol kami tidak bisa prediksi karena ship to ship ini juga harus ditunjang oleh cuaca. Kalau cuaca hujan jelas pekerjaan tidak boleh dilanjutkan ship to ship dan adanya masalah gangguan Kamtibmas. Hal ini dapat mempengaruhi proses pekerjaan ship to ship,” ucap Marthen.
“Penyebab terjadinya kesobekan Kapal Indian Partnership, disebabkan mereka menabrak benda asing dengan benturan yang sangat keras sehingga dalam perjalanan pelayaran Kapal Indian Partnership mengalami kemiringan karena air sudah masuk di tangki-tangki balance namun kapal tersebut dilengkapi dengan double bottom sehingga air tidak bisa masuk ke muatan atau tangki tangki lainnya,” terang Marthen.








