Laporan wartawan sorotnews.co.id : Priska Sitorus.
BATAM, KEPRI – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Batam memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah dengan mengusung tema “Tingkatkan Kualitas Ibadah dan Muhasabah” pada Rabu (2/7/2025) selepas salat Dzuhur. Kegiatan dilaksanakan di Masjid Al-Taubah, yang berada di dalam lingkungan lapas.
Acara digagas oleh Kepala Lapas, Yogo Indra Wicaksana, serta Ketua Dewan Pengurus Masjid (DPM), Seseritaria, bersama jajaran pengurus lainnya. Tujuan utama kegiatan ini adalah mengajak warga binaan untuk menilai diri sendiri (muhasabah) dan meningkatkan kualitas ibadah sebagai upaya hijrah spiritual dan moral.
Ratusan warga binaan antusias mengikuti rangkaian acara. Ketua DPM, Seseritaria, bertindak sebagai pembawa acara sekaligus mewakili Kepala Lapas yang berhalangan hadir karena tugas mendadak.
Acara dibuka oleh grup kompang dari Pondok Pesantren Wasilatul Huda, yang membawakan kasidah dan sholawat. Grup ini terdiri dari santri binaan Lapas Batam, di bawah bimbingan Ustadz Zenoscareon Alia, atau dikenal sebagai “Pak Oyon” dari Pasar Induk, yang aktif membina spiritual para santri dalam lapas.
Selanjutnya dilanjutkan pemberian bantuan kepada anak yatim yang berasal dari tiga panti asuhan: Bina Insan Madani, Permata, dan Inayah Batam.
Dalam sambutannya, Ketua DPM menyampaikan pesan Kepala Lapas untuk warga binaan agar menjadikan Tahun Baru Islam momentum hijrah—perubahan positif untuk meningkatkan mental, moralitas, dan religiusitas. Warga binaan diajak untuk lebih sabar, introspektif, dan konsisten memperbaiki diri agar kelak dapat kembali ke masyarakat dengan karakter yang lebih baik.
“Hijrah hakiki adalah perpindahan dalam kehidupan—mental, moral, dan religiusitas kita. Tahun baru ini adalah saat yang tepat untuk memperbarui sikap, karakter, dan mental secara individu,” ujarnya.
Seseritaria menekankan makna hijrah sebagai refleksi perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Ia menekankan pentingnya membangun tatanan sosial yang menjunjung tinggi akidah, kebebasan beribadah, dan kasih sayang universal (rahmatan lil al‑‘alamin).
“Hijrah menuntun kita merealisasikan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta. Di era kini, hijrah berarti memperkokoh karakter dan akhlak agar tidak tergerus oleh arus globalisasi negatif,” ujarnya.
Acara ditutup dengan tausiah dari Ustadz Rionaldi, yang mengajak warga binaan untuk menjaga rasa sabar, meningkatkan kualitas ibadah, serta tidak mudah kembali terjerumus dalam masalah hukum setelah bebas dari Lapas.
“Konsistensi meningkatkan iman dan takwa adalah benteng terbaik agar tidak kembali jatuh dalam pelanggaran,” katanya.**








