Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
SURABAYA, JATIM – Sebuah langkah penting dalam penguatan gerakan pengelolaan sampah di tingkat akar rumput dilakukan di Kecamatan Karangpilang, Surabaya. Pada Sabtu, 2 Agustus 2025 pukul 15.30 WIB, bertempat di Pendopo Kecamatan Karangpilang, secara resmi dibentuk Paguyuban Bank Sampah “Karangpilang Tangguh”, sebagai wadah pemersatu dan pendamping aspirasi bagi seluruh unit bank sampah yang tersebar di wilayah tersebut.
Ketua paguyuban, Nurul Rakhmawati, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran para pengelola bank sampah unit (BSU) yang selama ini telah bekerja di lini terdepan dalam mengatasi persoalan sampah di tingkat RT dan RW.
“Kami berharap ada perhatian lebih dari Pemerintah Kota Surabaya, tidak hanya kepada Kader Surabaya Hebat (KSH), tapi juga kepada pengurus bank sampah unit di kampung-kampung. Kami ini adalah kader lingkungan yang juga menjadi tombak utama dalam mengatasi persoalan sampah di kota ini,” tegas Nurul.
Ia menambahkan, dalam setiap kegiatan atau lomba yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan—seperti Surabaya Smart City (SSC), Lomba KSH, Kelurahan Berseri, hingga Program Kampung Iklim (Proklim)—bank sampah selalu dilibatkan sebagai indikator keberhasilan lingkungan. Namun, menurutnya, kesejahteraan para pengelola masih sangat minim.
“Tempat pengelolaan kami siapkan sendiri, modal dari kantong sendiri, bahkan honor pengurus bank sampah dalam satu tahun belum tentu mencapai Rp500.000. Kami hanya berharap Bapak Wali Kota lebih memperhatikan perjuangan kami yang setiap hari bergelut langsung dengan sampah, demi mengurangi beban TPA Benowo,” tambahnya.
Bank Sampah: Solusi Nyata Atasi Sampah Sekaligus Tingkatkan Kesejahteraan, Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat.
Bank sampah merupakan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang meniru sistem perbankan. Masyarakat menjadi “nasabah” dengan menyetorkan sampah yang telah dipilah (terutama sampah kering yang bernilai ekonomis seperti plastik, kertas, logam, dan kaca), yang kemudian dikelola oleh pengurus bank sampah untuk didaur ulang atau dijual ke pengepul.
Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah, sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Bank sampah memberikan keuntungan finansial bagi masyarakat berupa uang tunai atau tabungan yang tercatat dalam buku tabungan, tergantung jenis dan jumlah sampah yang disetor. Hasil keuntungan dapat digunakan untuk operasional bank sampah, pengembangan program edukasi lingkungan, bahkan bantuan sosial bagi warga sekitar.
Selain itu, manfaat lingkungan dari keberadaan bank sampah sangat signifikan : Mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), khususnya TPA Benowo; Menekan pencemaran lingkungan dan mendukung prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle); Membantu pencapaian target pemerintah dalam pengurangan sampah rumah tangga.
Pembentukan Paguyuban Bank Sampah “Karangpilang Tangguh” menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring pengelolaan sampah berbasis komunitas. Namun, sebagaimana disuarakan para pengurus, dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, terutama dalam bentuk : Bantuan sarana dan prasarana (tempat pengelolaan, timbangan, alat daur ulang), Insentif atau honor bagi pengurus, Pendampingan berkelanjutan dari dinas terkait, Sertifikasi atau pelatihan bagi kader lingkungan.
Tanpa dukungan yang memadai, perjuangan para pegiat bank sampah di kampung-kampung rawan terhenti, padahal mereka adalah garda depan dalam mengurangi beban lingkungan kota.
“Kami bukan sekadar pemilah sampah. Kami adalah pejuang lingkungan,” tutup Nurul dengan penuh semangat.**








