Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin.
PEKALONGAN, JATENG – Pesantren tak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mulai berkembang menjadi laboratorium wirausaha. Hal ini tampak dari kegiatan sosialisasi Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) yang digelar Perkumpulan Akuntan Muda (PAM) Jawa Tengah di Pondok Pesantren Thibbil Qulub Assimbani, Desa Pakumbulan, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan.
Ketua PAM Jateng, Tegar Hary Pribadi, menjelaskan alasan utama memilih pesantren sebagai lokasi sosialisasi karena banyaknya UMKM yang tumbuh di bawah naungan pondok. Namun sayangnya, sebagian besar masih mengelola usaha dengan cara tradisional tanpa pencatatan keuangan yang jelas
“Dengan adanya sosialisasi ini, pengelola pondok, santri, hingga pelaku UMKM bisa memahami apa itu SAK-EMKM. Dampaknya besar, karena mereka jadi tahu pentingnya laporan keuangan, perpajakan, hingga transparansi usaha,” ujar Tegar yang saat ini juga tengah menempuh studi S2 di Unissula Semarang, Jumat (29/8/25).
Pengasuh Ponpes, KH. M. Thohir, S.Pd., menambahkan, kegiatan ini sejalan dengan kurikulum wirausaha di pesantren. Santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga diajari keterampilan produksi seperti membuat tempe dan berjualan.
“Alhamdulillah, antusias santri sangat tinggi. Ada 50 peserta dari berbagai jurusan, bahkan ada yang punya cita-cita buka usaha online. Kami berharap kegiatan ini berlanjut, dari belajar dasar akuntansi hingga teknik manajemen usaha yang lebih detail,” jelasnya.
Bagi santri, kegiatan ini terasa seperti pengalaman baru yang membuka wawasan. Dewi Sinta (25) yang kini mengajar PAI di pesantren, mengaku kini lebih memahami pentingnya pencatatan sesuai standar.
“Dulu kami hanya menulis manual, sekarang tahu bahwa kalau tidak tertib bisa kena pajak tinggi. Dengan laporan sesuai SAK EMKM, pajak bisa progresif sesuai keuntungan. Ini ilmu yang bermanfaat untuk rencana usaha setelah lulus nanti,” kata Dewi.
Hal serupa diungkapkan Nazwa Zalia Putri, 17 tahun, santriwati asal Jakarta yang baru pertama kali mengikuti pelatihan ini.
“Biasanya saya hanya lihat YouTube untuk belajar wirausaha. Kali ini dapat ilmu langsung, jadi tahu cara buka usaha, modal, hingga laporan keuangan. InsyaAllah bisa dipraktikkan biar keuangannya tertib,” ucapnya.
Dari sisi desa, manfaat kegiatan ini juga dinilai besar. Rifqi Ahsanu, Sekretaris Desa Pakumbulan, menuturkan bahwa masih banyak UMKM setempat yang belum mengenal SAK-EMKM. Padahal jumlah UMKM di desa tersebut mencapai lebih dari 50 unit, mayoritas bergerak di bidang fashion.
“Dengan SAK-EMKM, masyarakat jadi tahu pentingnya neraca, laba-rugi, dan catatan laporan keuangan. Ini masih dasar, tapi ke depan akan ada pelatihan lanjutan, termasuk pembuatan NIB (Nomor Induk Berusaha). Jangan sampai terulang kasus di desa lain yang menunggak pajak miliaran rupiah karena tidak pernah bikin laporan,” tegas Rifqi.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pesantren dan UMKM di Pakumbulan untuk naik kelas. Dengan literasi keuangan yang lebih baik, pesantren bukan hanya mencetak santri berilmu agama, tetapi juga generasi muda yang siap bersaing di dunia usaha modern.**








