Ribuan Mahasiswa Antusias Ikuti Fin Talk 2025: Lo Kheng Hong Ajak Generasi Muda Naik Level Finansial dari Menabung ke Investasi

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin. 

PEKONGAN, JATENG – Lebih dari seribu mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Pekalongan memadati gedung HA. Djunaid Convention Center dalam gelaran Seminar Nasional Fin Talk 2025 bertema ‘From Saving to Investing: Cara Aman Naik Level Finansial.’

Acara ini menghadirkan investor legendaris Indonesia Lo Kheng Hong, Kepala Kantor Perwakilan OJK Tegal Noviyanto Utomo, Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid, Rektor Unikal Andi Kushermanto, serta Kepala Wilayah Jawa Tengah I BEI Fanny Rifqi El Fuad.

Kegiatan tersebut menjadi puncak peringatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025, program tahunan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat.

Kepala Wilayah Jawa Tengah I Bursa Efek Indonesia (BEI) Fanny Rifqi El Fuad menjelaskan, acara Fin Talk ini merupakan puncak rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan 2025 yang berkolaborasi dengan berbagai industri jasa keuangan. Tahun ini, BEI menggandeng Universitas Pekalongan sebagai mitra utama karena kampus tersebut telah lama memiliki galeri investasi aktif.

“Selama Oktober lalu, telah tercipta 700 akun investor saham baru dari mahasiswa Unikal. Mereka bukan hanya belajar teori pasar modal, tapi juga praktik langsung dengan membuka rekening saham,” ujarnya, Selasa(11/11/25).

Fanny menambahkan, jumlah investor saham di Kota Pekalongan terus meningkat signifikan dengan rincian
per September 2025 tercatat ada 31.400 investor saham, naik sekitar 8.000 investor dibanding awal tahun. Itu belum termasuk investor obligasi dan reksadana.

Menurut Fanny, kegiatan seperti Fin Talk penting untuk menumbuhkan kebiasaan mahasiswa menyisihkan sebagian uang bukan hanya untuk menabung, tetapi juga untuk berinvestasi di instrumen keuangan yang legal dan terdaftar di pasar modal.

“Jadi literasi saja tidak cukup, inklusi juga tidak cukup. Harus dibarengi pengetahuan yang memadai agar bisa berinvestasi secara aman dan benar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan OJK Tegal Noviyanto Utomo menyebut, Bulan Inklusi Keuangan merupakan upaya berkelanjutan untuk memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan formal.

“Tingkat inklusi keuangan nasional kini mencapai 80,51 persen, tapi kami ingin terus meningkatkannya, termasuk untuk produk-produk keuangan syariah yang baru mencapai 13,41 persen di 2025,” jelasnya.

Dalam program BIK kali ini, OJK juga mendorong mahasiswa maupun masyarakat umum lainnya menjadi investor masa depan lewat lomba trading saham dan pembukaan rekening saham massal.

“Kami ingin perusahaan Indonesia dimiliki oleh masyarakat Indonesia sendiri. Karena dengan berinvestasi di saham, masyarakat turut memiliki dan merasakan manfaat pertumbuhan perusahaan nasional,” ujar Noviyanto.

Sebagai bentuk dukungan, OJK bersama BEI memberikan insentif awal Rp25.000 untuk tiap rekening saham mahasiswa agar mereka bisa langsung mencoba membeli saham atau reksadana.

“Tujuannya bukan soal besar kecilnya modal, tapi menanamkan kebiasaan berinvestasi sejak muda,” tambahnya.

Di sisi lain Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab turut mengapresiasi langkah OJK dan BEI yang konsisten dan kerap mengedukasi masyarakat tentang literasi finansial.

“Kalau dulu menabung dimulai dari celengan, lalu naik ke tabungan, sekarang sudah saatnya masyarakat naik kelas finansial dengan berinvestasi,” ujarnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya investasi perlu terus didorong agar tidak hanya UMKM yang naik kelas, tetapi juga masyarakat umum secara finansial.

“Dengan melek finansial, masyarakat tidak lagi khawatir soal keamanan investasi, karena sudah paham cara berinvestasi yang aman dan sesuai regulasi,” tutur Balgis.**