Tari Tradisional Kadandio Meriahkan Festival HUT Desa Liangkabori Ke-28

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Minardi. 

MUNA, SULTRA – Tari tradisional Muna, Kadandio, berasal dari kisah tentang seorang bidadari yang tidak bisa kembali ke kahyangan karena selendangnya dicuri. Tarian ini menggambarkan rasa duka masyarakat Muna atas pengkhianatan terhadap Raja Muna, La Ode Ngkadiri.

Dalam sesi wawancara bersama pelatih tari tradisional Kadandio Siti Fatimah, S.Hum, menyebutkan bahwa dirinya mulai tau tarian kadandio sejak dia berusia belasan tahun saat dirinya menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Saya mulai tau gerakan tarian tradisional kadandio sejak saya bersekolah di SMA. Sedangkan untuk melatih tarian Kadandio saya mulai sejak tahun 2024 saat itu juga bertepatan dengan perayaan ulang tahun desa kami yaitu Desa Liangkabori ke 27,” ucapnya

“Saya bangga kepada Kepala Desa Liangkabori Farlin, SH yang telah memberikan kepercayaan terhadap saya untuk membagikan ilmu tarian tradisional kepada adik-adik saya di Desa Liangkabori selama dua (2) tahun terakhir 2024-2025 perayaan HUT Desa Liangkabori,” tambahnya.

“Semoga dikepemimpinan Kepala Desa Liangkabori Farlin, SH, Desa Liangkabori semakin dikenal oleh masyarakat luas bahkan mancanegara dengan sejarah dan budayanya. Sehingga bisa menjadi penunjang kesejahteraan bagi masyarakat Desa Liangkabori,” lanjutnya.

Fatimah berharap tari tradisional kadandio ini tidak hanya dijadikan sebagai tarian seremonial untuk memperingati perayaan di Kabupaten Muna. Dia berharap Pemerintah Kabupaten Muna dapat menjadikan tarian tradisional kadandio sebagai event di kalangan remaja sehingga tari tradisional kadandio terus tertanam dan dikenal oleh banyak generasi muda Kabupaten Muna.

Dirinya juga berharap kepada Kepala Desa Liangkabori agar sekiranya bisa membangun sanggar khusus tarian tradisional seperti tari Linda juga tari kadandio. Tutup Fatimah.**

Pos terkait