Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA – Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan hidup. Sepanjang tahun 2025, Telkom menargetkan penanaman 10.000 bibit pohon di sepanjang aliran sungai di tiga wilayah prioritas: Garut, Boyolali, dan Gowa.
Tak hanya itu, Telkom juga akan melakukan penanaman 10.000 bibit mangrove di wilayah pesisir Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, dan Sulawesi Selatan. Program konservasi bawah laut pun menjadi perhatian, dengan rencana penanaman 900 bibit terumbu karang di perairan Banyuwangi, Pandeglang, dan NTT.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun, data dari Mongabay (2024) mencatat bahwa luas deforestasi di Indonesia telah mencapai 261.575 hektare, dengan 97% di antaranya terjadi di area konsesi industri seperti perkebunan dan tambang. Sementara itu, World Economic Forum (2024) memperkirakan bahwa lebih dari 50% kawasan lindung laut di Indonesia akan mengalami pemutihan terumbu karang (coral bleaching) tahunan pada 2044 akibat perubahan iklim.
Menanggapi kondisi ini, Telkom secara aktif menggabungkan program konservasi lingkungan dengan inovasi teknologi digital sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Senior General Manager Social Responsibility Telkom, Hery Susanto, menegaskan bahwa Telkom sebagai BUMN sekaligus perusahaan digital terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memimpin aksi nyata dalam pelestarian lingkungan.
“Telkom memiliki komitmen untuk keberlanjutan lingkungan. Kami memanfaatkan teknologi digital untuk memantau dan mengukur progres setiap program konservasi yang dijalankan. Ini bukan hanya aksi simbolik, tetapi bagian dari strategi perusahaan menuju masa depan yang berkelanjutan,” jelas Hery.
Selain penghijauan dan rehabilitasi pesisir, Telkom juga menjalankan program konservasi keanekaragaman hayati yang mencakup perlindungan terhadap:
Tanaman endemik dan langka, seperti tanaman obat, anggrek liar, pohon-pohon lokal, dan tanaman lamun.
Satwa dilindungi, seperti penyu dan babi kutil Bawean, yang habitatnya semakin terancam akibat aktivitas manusia.
“Pelestarian lingkungan bukan tugas satu pihak. Kami menggandeng masyarakat dan komunitas lokal karena keberlanjutan alam hanya dapat dicapai melalui kerja sama dan kesadaran kolektif,” tambah Hery.
Upaya Telkom ini juga merupakan bagian dari kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya : SDG 11 – Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan; SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim; SDG 14 – Ekosistem Lautan; SDG 15 – Ekosistem Daratan.
Melalui rangkaian program tersebut, Telkom menunjukkan bahwa konservasi alam bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bagian integral dari strategi bisnis yang berkelanjutan. Perusahaan berkomitmen untuk terus menjaga warisan alam Indonesia, melibatkan masyarakat, serta mengembangkan teknologi yang mampu menjaga bumi tetap hijau dan sehat.
Dengan memadukan teknologi, kolaborasi, dan aksi nyata, Telkom turut menciptakan nilai bersama (shared value) bagi lingkungan, masyarakat, dan generasi yang akan datang.**








