Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA – Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, menghadiri rapat terbatas (ratas) yang dipimpin langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (23/5). Rapat ini diikuti oleh sejumlah menteri terkait serta Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi, dan difokuskan pada pembahasan percepatan pelaksanaan proyek hilirisasi nasional serta tindak lanjut terhadap sejumlah proyek strategis prioritas.
Rapat tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menjadikan hilirisasi sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi nasional. Presiden Prabowo menekankan pentingnya penguasaan teknologi dan dominasi kepemilikan nasional dalam setiap proyek hilirisasi guna memastikan proyek ini menjadi bagian dari “proyek merah putih” yang mandiri dan berdaulat.
Menteri Pertahanan Sjafrie menyatakan dukungannya terhadap arahan Presiden dan menegaskan bahwa hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi semata, tetapi juga menyangkut ketahanan nasional.
“Hilirisasi adalah bagian integral dari ketahanan nasional, karena melalui penguatan industri dari hulu ke hilir, Indonesia akan lebih mandiri secara ekonomi dan mampu memperkuat posisinya dalam rantai pasok global,” ujar Sjafrie.
Ia juga menambahkan bahwa pengembangan ekosistem hilirisasi sangat penting, terutama dalam mempersiapkan ekosistem energi masa depan, seperti industri baterai kendaraan listrik yang strategis untuk keberlanjutan energi nasional.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia seusai rapat menyampaikan bahwa proyek hilirisasi ini merupakan salah satu program prioritas nasional yang mendapatkan perhatian khusus dari Presiden.
“Ini semua sudah dibahas secara rinci. Ini adalah kolaborasi antara Satgas Hilirisasi, Kementerian Investasi, dan kementerian teknis lainnya,” ujar Bahlil.
Proyek hilirisasi nasional diharapkan mampu membawa lompatan besar bagi perekonomian Indonesia, sekaligus menciptakan nilai tambah yang tinggi dari sumber daya alam dalam negeri. Pemerintah menargetkan hilirisasi tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga di sektor energi, pertanian, dan manufaktur sebagai upaya menyeluruh dalam membangun ekonomi berbasis nilai tambah dan teknologi.**











