Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA — Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, memperkuat komitmennya dalam mendukung agenda pemerintah menurunkan tingkat kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hingga 2025, Grup MIND ID tercatat telah membina lebih dari 10.000 pelaku UMKM di seluruh wilayah operasional perusahaan. Capaian tersebut menempatkan MIND ID sebagai salah satu BUMN yang aktif mendorong pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menegaskan bahwa program hilirisasi tidak boleh dipahami semata sebagai proyek industri, melainkan sebagai strategi transformasi ekonomi yang menyambungkan proses produksi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
“Hilirisasi tidak boleh berhenti pada output industri. Ukurannya adalah seberapa jauh ia melahirkan pelaku usaha baru, memperkuat yang kecil, dan memperluas fondasi ekonomi nasional. Ketika 10.000 UMKM meningkat kapasitasnya, itu bukan sekadar program sosial, melainkan strategi ekonomi yang memperdalam struktur produktif kita,” ujarnya.
Menurut Dany, UMKM bukan sekadar pelengkap dalam struktur ekonomi nasional, melainkan fondasi utama. Dengan akses pembiayaan, pendampingan, serta kepastian ekosistem usaha, UMKM dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan.
“Ketika UMKM diberi ruang tumbuh, dampaknya langsung terasa pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi lokal. Itu adalah cara paling rasional dan berkelanjutan untuk menekan kemiskinan,” tegasnya.
Program pembinaan MIND ID mencakup pelatihan dan peningkatan kapasitas usaha, pendampingan dan mentoring bisnis, fasilitasi pameran serta promosi produk, hingga dukungan akses pembiayaan dan permodalan. Seluruh program dirancang menyesuaikan kebutuhan serta potensi ekonomi daerah agar UMKM dapat berkembang secara organik dan berkelanjutan.
Salah satu contoh keberhasilan terlihat dari program pembinaan yang dilakukan PT Timah Tbk terhadap UMK Pempek Udang Mama Sabil yang dikelola Kardina (41), warga Desa Kerabut, Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Melalui fasilitasi pameran, peningkatan kualitas produk, dan pendampingan usaha, produk olahan pempek udang tersebut kini semakin dikenal luas dan mengalami peningkatan omzet signifikan. Kardina pun menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus inspirasi bagi perempuan lain di daerahnya untuk mandiri secara ekonomi.
Contoh lainnya adalah program pemberdayaan masyarakat oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Provinsi Sumatera Selatan. Lebih dari 30 ibu rumah tangga dari Desa Lingga, Keban Agung, dan Pasar Tanjung Enim dihimpun dalam kelompok SIBA Rosella, yang memproduksi minuman herbal teh rosella kaya vitamin C.
Sejak dibentuk pada 2019, kelompok tersebut mendapat dukungan berupa pendanaan, pelatihan, hingga penguatan aspek pemasaran. Saat ini, produk SIBA Rosella telah dipasarkan secara nasional dengan kapasitas produksi sekitar 100 kotak per hari dan menghasilkan omzet berkisar Rp5 juta hingga Rp60 juta per bulan, tergantung permintaan pasar.
Keberhasilan program tersebut turut mendorong lahirnya unit usaha baru bernama SIBA Rajut, yang beranggotakan 15 ibu rumah tangga dari desa-desa sekitar wilayah operasional PTBA. Kelompok ini menjadi wadah pemberdayaan baru yang tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga mempererat solidaritas sosial perempuan di tingkat lokal.
Dany menegaskan, MIND ID berkomitmen menghadirkan program yang tidak hanya membantu masyarakat keluar dari garis kemiskinan, tetapi juga mendorong mereka naik kelas dan menjadi penggerak pembangunan daerah.
“Mengurangi kemiskinan adalah baseline. Menaikkan kelas adalah strategi. Kami ingin masyarakat di wilayah operasional tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan menjadi penggerak ekonomi daerah,” pungkasnya.
Melalui pendekatan hilirisasi yang terintegrasi dengan pemberdayaan UMKM, MIND ID berharap dapat memperkuat struktur ekonomi nasional dari tingkat lokal sekaligus memperluas dampak sosial industri pertambangan secara berkelanjutan.**








