Laporan wartawan sorotnews.co.id : Asep Suebu.
SORONG, PBD – Aksi pemalangan jalan yang dilakukan keluarga dan kerabat Abraham Franklin Delano Kambu di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 12, Kota Sorong, Papua Barat Daya, akhirnya berakhir setelah dilakukan dialog langsung antara aparat kepolisian dan pihak keluarga korban pada Selasa (10/3/2026).
Aksi blokade yang sempat melumpuhkan arus lalu lintas tersebut dipicu tuntutan keluarga terkait kejelasan penyebab kematian Delano Kambu, seorang pemuda asal Sorong yang ditemukan meninggal dunia di Kampung Banfot, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw.
Sejak pagi hari, massa memalang dua jalur utama Jalan Jenderal Sudirman dengan membakar ban bekas serta menumpuk potongan kayu di badan jalan. Kepulan asap hitam dari ban yang terbakar sempat menyelimuti kawasan tersebut dan menyebabkan arus lalu lintas pada jalur utama penghubung Kota Sorong menuju Kabupaten Tambrauw lumpuh total selama beberapa jam.
Aksi pemalangan itu merupakan bentuk luapan duka sekaligus kekecewaan keluarga yang menuntut kejelasan kronologi serta penyebab kematian Delano Kambu.
Situasi di lokasi sempat memanas ketika sejumlah pengendara yang hendak melintas tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat blokade tersebut. Ketegangan bahkan hampir memicu kericuhan ketika seorang aparatur sipil negara mencoba membubarkan massa dan nyaris menjadi sasaran kemarahan warga.
Ketegangan akhirnya mereda setelah Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Papua Barat Daya, Brigjen Pol. Semmy Ronny Thabaa, turun langsung ke lokasi untuk menemui keluarga korban dan massa aksi.
Dalam dialog terbuka yang berlangsung di tengah lokasi pemalangan, Wakapolda memilih pendekatan persuasif dengan mendengarkan langsung tuntutan dan aspirasi keluarga korban.
Salah satu perwakilan keluarga, John Isir, menyampaikan dua tuntutan utama kepada pihak kepolisian. Pertama, keluarga meminta klarifikasi terkait informasi yang beredar mengenai penyebab kematian Delano. Kedua, keluarga mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
“Kami hanya meminta dua hal. Pertama, klarifikasi atas informasi yang beredar. Kedua, kami ingin pelaku yang bertanggung jawab atas kematian anak kami segera diungkap,” ujar John Isir di hadapan aparat dan massa aksi.
Menanggapi tuntutan tersebut, Wakapolda Papua Barat Daya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta memastikan bahwa kasus tersebut menjadi perhatian serius pimpinan kepolisian daerah.
“Kami hadir di sini karena peristiwa yang menimpa almarhum Delano menjadi atensi Kapolda Papua Barat Daya. Kami sedang mengumpulkan seluruh keterangan agar kejadian ini dapat terungkap secara jelas,” ujar Semmy Ronny Thabaa.
Ia menjelaskan bahwa setelah korban dilaporkan hilang, aparat gabungan TNI–Polri bersama masyarakat langsung melakukan upaya pencarian hingga akhirnya menemukan korban di sekitar lokasi kejadian pada Senin (9/3/2026).
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut sebelum akhirnya dibawa ke rumah duka di Kota Sorong.
Sementara itu, Kapolres Tambrauw, AKBP Praja Gandha Wiratama, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban tidak meninggal akibat luka tembak seperti informasi yang sempat beredar di media sosial.
“Secara garis besar korban mengalami luka akibat benda tajam. Tidak ditemukan luka tembak seperti yang sempat beredar,” jelasnya.
Berdasarkan informasi awal kepolisian, peristiwa tersebut bermula ketika Delano melakukan perjalanan dari Kota Sorong menuju Distrik Fef, ibu kota Kabupaten Tambrauw.
Saat melintas di Kampung Banfot sekitar pukul 19.35 WIT, korban diduga dicegat oleh orang tak dikenal di tengah perjalanan. Seorang saksi yang berada di belakang korban sempat melihat Delano terjatuh dari sepeda motor sebelum berusaha melarikan diri menuju Pos Satgas TNI yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Polisi juga menduga pelaku berasal dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang selama ini diketahui beroperasi di kawasan hutan Distrik Bamusbama. Meski demikian, kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih terus dilakukan untuk memastikan kronologi serta motif di balik kejadian tersebut.
Setelah dialog berlangsung, keluarga korban akhirnya sepakat menghentikan aksi pemalangan jalan. Dengan bantuan aparat kepolisian, ban dan kayu yang sebelumnya dibakar di badan jalan kemudian dibersihkan.
Arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 12 pun kembali normal setelah sempat lumpuh selama beberapa jam.
Pihak kepolisian memastikan proses penyelidikan terhadap kematian Abraham Franklin Delano Kambu masih terus berjalan guna mengungkap pelaku serta motif di balik peristiwa tragis tersebut.**











