Mengawasi Aparatur Negara dan Informasi Publik

Darurat Sampah di Pekalongan, Rutan Lodji Tunjukkan Aksi Nyata Lewat Inovasi Kompos Organik

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Toni. 

PEKALONGAN, JATENG – Di tengah status darurat sampah yang tengah melanda Kota Pekalongan, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan—dikenal juga sebagai Rutan Lodji—menunjukkan langkah konkret dalam pengelolaan sampah organik melalui program inovatif bernama Posnik Lodji (Kompos Organik Rutan Lodji).

Program ini menjadi bentuk kontribusi nyata Rutan Lodji dalam mendukung upaya pengurangan sampah rumah tangga, khususnya limbah organik, yang selama ini menjadi beban utama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setempat. Tidak hanya sebagai upaya lingkungan, Posnik Lodji juga diarahkan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

“Darurat sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk kami di dalam Rutan. Maka dari itu, kami berkomitmen untuk mengelola limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Eko Kurniawan, Pelaksana Harian Kepala Rutan sekaligus Kepala Subsie Bimbingan Kegiatan, Senin (14/4).

Melalui Posnik Lodji, sampah dapur dan hasil kebun warga binaan dikumpulkan dan diproses menjadi kompos menggunakan cairan EM4 untuk mempercepat penguraian. Proses fermentasi dilakukan selama 20–25 hari dalam wadah tertutup seperti dandang bekas, menghasilkan kompos berkualitas yang langsung dimanfaatkan untuk menyuburkan kebun rutan dan budidaya cacing tanah putih.

Dari setiap 10 kilogram sampah organik, sekitar 4 hingga 5 kilogram kompos dapat dihasilkan—menunjukkan efektivitas dalam menyusutkan volume sampah. Kompos tersebut digunakan untuk membudidayakan berbagai tanaman seperti cabai, terong, kangkung, dan sawi yang tumbuh subur di lahan terbatas milik Rutan Lodji.

Menurut Eko, program ini berawal dari kebutuhan akan pupuk yang sulit dipenuhi secara eksternal.

“Kami awalnya kesulitan mendapat pupuk untuk pertanian dalam Rutan. Tapi dari keterbatasan itu justru muncul inovasi. Warga binaan belajar mengelola limbah dan menjadikannya sesuatu yang berguna. Ini adalah bagian penting dari proses pembinaan menuju kemandirian,” ujarnya.

Lebih dari sekadar solusi lingkungan, Posnik Lodji juga menginternalisasi nilai-nilai penting seperti kepedulian terhadap lingkungan, keterampilan praktis, serta sikap tanggung jawab sosial bagi para warga binaan. Program ini menjadi bukti bahwa prinsip zero waste dapat diterapkan bahkan di lingkungan tertutup sekalipun.

“Di tengah kondisi darurat sampah seperti sekarang, sudah saatnya kita semua mengambil bagian dalam solusi. Rutan Lodji memulai dari hal kecil: mengolah sampah sendiri, mengurangi beban TPA, dan menjadikan limbah sebagai sumber daya. Harapannya, langkah kecil ini bisa menginspirasi lembaga lain dan masyarakat umum untuk bergerak bersama mengatasi persoalan sampah di Kota Pekalongan,” pungkas Eko.**