Desakan Transparansi Menguat, Wakapolda Papua Barat Daya Terima Keluarga Korban Pembunuhan di Tambrauw

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Asep Suebu. 

SORONG, PBD – Desakan transparansi dalam penanganan kasus pembunuhan di Kabupaten Tambrauw terus menguat. Hal ini mencuat setelah keluarga almarhum Abraham Franklin Delano Kambu mendatangi Polda Papua Barat Daya dan bertemu langsung dengan Wakapolda Papua Barat Daya, Semmy Ronny Thabaa, pada Jumat (24/4/2026).

Bacaan Lainnya

Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Wakapolda tersebut menyoroti minimnya arus informasi yang diterima keluarga korban. Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga terungkap adanya indikasi keterkaitan antara dua kasus pembunuhan yang terjadi di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw.

Ibu kandung korban, Merina M. Kmurawak, bersama keluarga menyampaikan secara tegas permintaan kepastian hukum atas kasus yang menewaskan Delano Kambu pada 8 Maret 2026 di Kampung Banfot. Menurut mereka, hingga saat ini informasi resmi dari aparat penegak hukum masih terbatas dan belum memberikan gambaran yang utuh.

“Saya selaku ibu kandung dari Abraham Franklin Delano Kambu yang menjadi korban pembunuhan di Kampung Banfot. Hari ini saya bersama keluarga datang untuk bertemu Wakapolda guna menanyakan kelanjutan proses hukum kasus anak saya,” ujar Merina.

Ia menegaskan bahwa keluarga membutuhkan penjelasan yang jelas, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar informasi yang beredar di media sosial maupun pemberitaan.

“Kami ingin pihak kepolisian memberikan keterangan yang jelas kepada kami, agar kami memahami perkembangan kasus ini. Selama ini informasi yang kami terima masih simpang siur,” lanjutnya.

Selain itu, keluarga menilai perhatian publik saat ini lebih banyak tertuju pada kasus pembunuhan tenaga kesehatan (nakes) yang terjadi setelahnya. Sementara itu, kasus Delano Kambu yang lebih dahulu terjadi dinilai belum mendapatkan penjelasan secara komprehensif.

Menanggapi hal tersebut, Wakapolda Semmy Ronny Thabaa menegaskan bahwa kepolisian tidak membedakan penanganan kedua kasus tersebut.

“Kami dari pihak kepolisian tidak membedakan penanganan antara kasus Delano dan kasus dua tenaga kesehatan tersebut. Bahkan, daftar pencarian orang (DPO) yang telah ditetapkan merupakan hasil pengembangan penyelidikan yang bermula dari kasus Delano,” tegasnya.

Ia menjelaskan, para DPO yang telah ditetapkan diduga terlibat dalam kedua peristiwa pembunuhan tersebut. Oleh karena itu, proses penyelidikan dilakukan secara terintegrasi guna mengungkap seluruh rangkaian kejadian secara menyeluruh.

Dalam pertemuan tersebut, Wakapolda juga memaparkan langkah-langkah konkret yang telah dan akan dilakukan. Polres Tambrauw bersama Polda Papua Barat Daya berkomitmen menuntaskan seluruh kasus pembunuhan di Distrik Bamusbama secara profesional, transparan, dan tanpa diskriminasi.

Penanganan perkara turut diperkuat melalui Operasi Dofior Jaya-2026 yang saat ini masih berlangsung. Selain itu, Kapolres dan jajaran penyidik diminta untuk secara rutin menyampaikan perkembangan penanganan kasus kepada pihak keluarga korban.

“Bidang Humas bersama penyidik juga akan memperbaiki pola komunikasi publik, agar informasi yang disampaikan lebih merata dan tidak terfokus pada satu kasus saja,” jelasnya.

Sebagai bentuk empati, Wakapolda juga menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban dalam pertemuan tersebut.

Meski telah menerima penjelasan dari pihak kepolisian, keluarga menegaskan bahwa prioritas utama mereka adalah percepatan pengungkapan kasus serta penangkapan para terduga pelaku.

“Kami berharap kasus ini dapat segera diungkap secepatnya,” tegas Merina.

Keluarga pun berharap komitmen aparat penegak hukum tidak berhenti pada pernyataan semata, melainkan diwujudkan melalui langkah nyata yang mampu menghadirkan kepastian hukum serta rasa keadilan bagi korban dan keluarga.**

Pos terkait