Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
SURABAYA, JATIM – Proyek normalisasi saluran air di Jalan Kemlaten Baru Barat, Surabaya, menuai pertanyaan dari warga. Pekerjaan saluran yang membentang dari Gang Dahlia hingga Gang Mawar tersebut sebagian besar menggunakan struktur box culvert, namun tidak semuanya dipasang tutup. Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan pengguna jalan dan efektivitas proyek tersebut.
Proyek yang saat ini masih dalam tahap pengerjaan merupakan bagian dari program Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), dengan dua fokus utama:
1. Normalisasi saluran dengan perbaikan pasangan batu kali di sisi barat Gang Dahlia, tepatnya saluran yang membujur dari arah selatan ke utara menuju area makam.
2. Pemasangan box culvert (U-ditch) di sisi utara Jalan Kemlaten Baru Barat, dengan lebar saluran mencapai 150 cm.
Namun demikian, berdasarkan pantauan lapangan, sejumlah titik pemasangan box culvert terlihat dibiarkan terbuka tanpa tutup. Saat dikonfirmasi, pihak pengawas proyek menyebut bahwa kondisi tersebut sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB). Mereka berdalih, saluran yang dibiarkan terbuka bertujuan mempermudah proses pemeliharaan dan pembersihan saluran, seperti pengangkatan sampah dan lumpur.
Warga menilai alasan tersebut tidak cukup kuat. Jalan Kemlaten Baru Barat merupakan jalur alternatif penting (jalan potong) bagi masyarakat dari arah Kebraon Tengah, Manis, dan wilayah sekitarnya yang hendak menuju kawasan Bogangin dan Kedurus. Ketidakhadiran tutup saluran justru membuat kondisi jalan semakin sempit dan berbahaya, terutama pada malam hari atau saat hujan.
Melalui perwakilan warga di RT 05 Gang Dahlia, masyarakat telah mengusulkan pembuatan proposal pengadaan material penutup box culvert. Proposal tersebut telah disusun oleh pengurus RT dan RW setempat, diketahui pihak Kelurahan Kebraon, dan selanjutnya akan diajukan ke Pemerintah Kota Surabaya melalui dinas terkait.
“Kalau saluran tidak ditutup, jalan menjadi sempit dan rawan kecelakaan. Kami minta agar segera ditutup untuk kenyamanan dan keselamatan warga,” ujar salah satu perwakilan warga.
Sementara itu, pihak pelaksana proyek menyampaikan bahwa penutupan saluran di sejumlah titik memang belum dilakukan karena proyek masih berjalan. Beberapa lokasi, seperti tikungan Gang Dahlia, disebut akan ditutup seluruhnya setelah proses pembangunan pondasi dan plengsengan manual selesai.
“Usulan awal memang semua ditutup. Tapi karena ada perubahan ukuran dan kebutuhan teknis, sebagian tutupan dikurangi. Kita masih menunggu penyelesaian struktur dasar, nanti baru dipetakan mana-mana yang akan ditutup,” kata seorang pekerja di lokasi proyek yang enggan disebut namanya.
Ia menambahkan, kemungkinan besar penambahan tutup saluran akan diusulkan dalam anggaran tahun berikutnya, namun hal itu juga tergantung pada komunikasi dan dorongan aktif dari RT/RW serta kelurahan sebagai perwakilan warga.
Sejumlah warga berharap agar pengurus RT dan RW tidak pasif dan hanya menunggu realisasi tahun depan. Mereka menilai perangkat wilayah harus proaktif mengawal jalannya proyek, mengingat lokasi pengerjaan berada di wilayah tanggung jawab mereka.
“Sebagai pengurus wilayah, RT dan RW harus cerdas dan bijak mem-follow-up proyek ini. Jangan menunggu tahun depan, karena ini menyangkut keselamatan warga,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.
Seiring dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul, warga juga meminta agar Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) memberikan penjelasan resmi terkait kebijakan tidak dipasangnya tutup pada sebagian saluran box culvert tersebut. Apakah memang sesuai RAB, dan apakah telah melalui kajian teknis yang mempertimbangkan keselamatan dan fungsi jalan?
Sorotnews.co.id masih berupaya menghubungi pihak DSDABM Surabaya untuk memperoleh klarifikasi lebih lanjut mengenai proyek ini.**








