Laporan wartawan sorotnews.co, id : Sugeng Try.
SIDOARJO, SULSEL – Kondisi Terminal Bungurasih atau yang dikenal sebagai Terminal Purabaya, kini dikeluhkan sejumlah pihak karena dinilai semakin kumuh dan kurang terawat. Terminal yang berlokasi di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo ini sebelumnya dikenal sebagai terminal bus terbesar di Jawa Timur dengan aktivitas transportasi yang sangat padat.
Perubahan pengelolaan terminal yang sebelumnya berada di bawah Dinas Perhubungan Kota Surabaya, kini telah beralih sejak sekitar lima tahun terakhir ke Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Namun, kondisi terkini terminal disebut mengalami penurunan dari sisi kebersihan dan kenyamanan.
Terminal Bungurasih merupakan salah satu simpul transportasi utama di Jawa Timur. Dibangun pada era 1980-an dan mulai beroperasi pada tahun 1984, terminal ini menggantikan terminal lama di kawasan Joyoboyo, Surabaya.
Dengan luas sekitar 10 hektare, terminal ini mampu melayani hingga 10.000 penumpang per hari. Beragam moda transportasi tersedia, mulai dari bus antarkota antarprovinsi (AKAP), antarkota dalam provinsi (AKDP), bus pariwisata, hingga angkutan kota.
Rute yang dilayani pun mencakup berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Denpasar hingga Makassar, serta berbagai wilayah di Jawa Timur seperti Malang, Mojokerto, dan Kediri.
Sebagai salah satu terminal tersibuk di Indonesia, Terminal Bungurasih juga menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar, baik dari sektor transportasi maupun perdagangan informal.
Pada April 2017, Pemerintah Kota Surabaya meresmikan pengoperasian ruang tunggu baru di lantai dua terminal. Fasilitas ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan penumpang sekaligus meminimalisir praktik percaloan.
Ruang tunggu tersebut dilengkapi dengan eskalator, koridor langsung menuju shelter keberangkatan, serta sistem alur penumpang yang lebih tertata. Dengan konsep ini, penumpang dapat langsung menuju bus sesuai tujuan tanpa harus berinteraksi dengan calo.
Selain itu, fasilitas pendukung seperti troli barang dan jalur khusus penyandang disabilitas juga disediakan, menjadikan terminal ini sempat digadang-gadang beroperasi dengan standar layaknya bandara.
Meski pernah mengalami peningkatan fasilitas, kondisi terkini terminal justru menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai kebersihan dan perawatan terminal tidak optimal, sehingga menimbulkan kesan kumuh.
Hal ini berbanding terbalik dengan statusnya sebagai terminal terbesar di Jawa Timur yang seharusnya menjadi wajah transportasi publik yang representatif dan nyaman.
Pemerintah berencana melakukan pengembangan Terminal Bungurasih guna meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan. Salah satu rencana yang mencuat adalah perluasan area terminal dari 10 hektare menjadi sekitar 20 hektare.
Selain itu, pengembangan juga mencakup peningkatan fasilitas seperti ruang tunggu yang lebih luas, perbaikan sanitasi, serta penambahan sarana penunjang seperti pusat perbelanjaan.
Pengembangan ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi Terminal Bungurasih sebagai pusat transportasi yang modern, aman, dan nyaman bagi masyarakat.
Hingga saat ini, masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pihak pengelola untuk segera melakukan pembenahan, sehingga terminal kebanggaan Jawa Timur tersebut dapat kembali memberikan pelayanan optimal bagi para pengguna jasa transportasi.**








