Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Try.
SURABAYA, JATIM – Warga Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Kota Surabaya, memberikan perhatian serius terhadap aktivitas pengembangan perumahan di wilayah mereka. Masyarakat meminta para pengembang tidak menutup atau mengubah fungsi saluran air yang sudah ada, guna mencegah potensi banjir di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pengembang terus menghadirkan hunian baru untuk menjawab kebutuhan perumahan yang meningkat di Kota Surabaya, salah satunya melalui proyek cluster Taman Jivva Kemlaten.
Sejumlah warga Kebraon menegaskan bahwa keberadaan saluran air memiliki fungsi vital bagi lingkungan, terutama sebagai sistem pengendali banjir yang telah digunakan sejak lama.
Mereka berharap setiap pembangunan perumahan tetap memperhatikan infrastruktur dasar yang sudah ada, termasuk fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos), agar tidak merugikan masyarakat sekitar.
Sementara itu, pengembang Taman Jivva Group menghadirkan cluster perumahan baru di kawasan Kemlaten, Kebraon, dengan konsep hunian bergaya American Classic yang menyasar keluarga muda.
Direktur Utama Taman Jivva Group, Muhammad Rifqi Azis, menyampaikan bahwa pembangunan tersebut merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan hunian yang terus meningkat di Surabaya.
“Pertumbuhan penduduk di Surabaya dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar 0,82 persen. Hal ini tentu berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan rumah tinggal,” ujarnya.
Ia juga mengacu pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 yang menunjukkan masih tingginya angka rumah tidak layak huni di kota-kota metropolitan, termasuk Surabaya. Sementara itu, Property Market Index 2021 menempatkan Surabaya sebagai tujuan utama hunian di Jawa Timur dengan persentase 48,7 persen.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Taman Jivva Kemlaten dirancang tidak hanya menawarkan hunian, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti tempat ibadah, taman bermain, akses transportasi, fasilitas kesehatan, ruang terbuka hijau, serta sistem keamanan.
Pengembang juga menegaskan pentingnya sistem drainase yang baik sebagai bagian dari standar hunian layak.
“Selain bangunan rumah, kami juga memperhatikan infrastruktur pendukung, termasuk sistem drainase agar kawasan tetap aman dari potensi banjir,” jelas Rifqi.
Secara lokasi, kawasan ini disebut memiliki akses strategis, di antaranya dekat dengan Jalan Raya Mastrip dan akses menuju Tol Mojokerto melalui pintu Warugunung yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit.
Wakil Ketua LPMK Kelurahan Kebraon, Gatot Setyabudi, SH, menyatakan pada prinsipnya mendukung seluruh kegiatan pembangunan di wilayahnya, selama tetap memenuhi ketentuan dan tidak merugikan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya menjaga kelengkapan fasilitas dan utilitas, termasuk tidak mengganggu saluran air yang memiliki nilai historis dan fungsi vital bagi warga.
“Kami mendukung pembangunan selama fasilitas dan utilitas dipenuhi serta tidak mengurangi fungsi saluran air yang sudah ada. Itu penting untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya kepada Sorotnews.
Dengan adanya pengembangan kawasan hunian baru di Kebraon, diperlukan sinergi antara pengembang, pemerintah, dan masyarakat agar pembangunan berjalan seimbang.
Warga berharap pembangunan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pasar, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan, khususnya terkait pengelolaan drainase guna mencegah risiko banjir di masa mendatang.**








