Laporan wartawan sorotnews.co.id : S. Tri A.
SIDOARJO, JATIM – Rencana penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Desa Pepelegi dan Sawotratap, Sidoarjo, yang dijadwalkan berlangsung pada Senin pagi (14/4), mendapat perlawanan dari para pedagang. Meski pasukan gabungan dari Satpol PP, TNI, dan Polri telah disiagakan, para PKL tetap berjualan seperti biasa dan bahkan menggelar aksi penolakan.
Sejak pagi hari, puluhan pedagang memblokir sebagian jalan menuju permukiman warga dengan membakar ban serta memasang meja dan bangku sebagai bentuk protes. Aksi ini menyebabkan antrean panjang kendaraan, termasuk mobil-mobil pribadi dan niaga, yang terpaksa bergiliran melintasi jalur yang sebagian tertutup.
Koordinator PKL, Tito Pradopo, menyampaikan bahwa para pedagang meminta agar rencana penertiban dibatalkan dan meminta adanya mediasi terlebih dahulu dengan pihak pemerintah. Ia menegaskan bahwa mayoritas pedagang telah berjualan di lokasi tersebut selama puluhan tahun.
“Rata-rata kami sudah 25 sampai 30 tahun berjualan di sini. Kami tidak mengganggu siapa-siapa. Sebaiknya duduk bersama dulu, jangan langsung digusur,” ujarnya saat ditemui di lokasi aksi.
Aksi penolakan juga diisi dengan orasi dari sejumlah pedagang, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka menyampaikan keprihatinan dan ketakutan bukan terhadap petugas, melainkan terhadap ancaman kehilangan penghasilan.
“Kami belum tentu mati kalau ditembak, tapi kalau lapar karena tidak bisa makan, kami pasti mati, Pak,” seru salah satu pedagang dengan nada emosional.
Meski suasana di sebagian titik berlangsung panas, tidak sedikit pedagang yang tetap membuka lapaknya seperti biasa. Beberapa warung kopi dan penjual makanan tetap melayani pelanggan yang duduk dan makan tanpa terganggu oleh situasi sekitar.
“Santai saja, Mas. Yang penting bisa cari makan,” ujar seorang penjual kopi sambil menyuguhkan minuman kepada pelanggannya.
Mantan Kepala Desa Sawotratap, Sundayati, turut hadir di lokasi untuk memberikan dukungan moril kepada para pedagang. Ia mendesak pemerintah desa agar turut campur tangan dalam menyikapi persoalan ini, mengingat sebagian besar PKL merupakan warga desa setempat.
“Jangan sampai hanya karena satu-dua laporan, semua pedagang harus digusur. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” ucapnya.
Sementara itu, pasukan gabungan tampak bersiaga di sekitar lokasi. Kendaraan taktis, mobil pemadam kebakaran, serta ambulans disiagakan sejak pagi. Hingga pukul 08.00 WIB, belum ada kejelasan apakah penertiban akan dilaksanakan hari ini. Terdengar kabar bahwa Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, dijadwalkan meninjau langsung lokasi PKL.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo telah berencana menertibkan pedagang di kawasan Pepelegi dan Sawotratap karena dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir berulang di daerah tersebut. Aktivitas jual beli dinilai mempersempit sempadan sungai, bahkan beberapa bangunan warung dilaporkan menjorok ke badan sungai, sehingga menghambat proses normalisasi aliran air.
Pemkab Sidoarjo sebelumnya telah mengeluarkan sejumlah surat peringatan kepada para pedagang agar segera mengosongkan area tersebut. Namun hingga kini, belum tercapai kesepakatan antara pedagang dan pihak berwenang.**











